Thursday, 18 December 2008

Prof.Dr.dr.Wasilah Rochmah Sp.PD, K-Ger, Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Konsultan Geriatri (Penyakit pada Lansia), Penanggung Jawab Klinik Lansia

BERJALANLAH TERUS DENGAN IDE YANG TELAH DIMULAI

ALLAH SWT MENURUNKAN SEGALA MACAM PENYAKIT SELALU BERSAMA OBATNYA, KECUALI TUA (AL QURAN)
Baik secara pribadi maupun sebagai seorang dokter dan seorang akademisi, saya ikut mengucapkan syukur Alhamdulillah atas karya seorang generasi muda kita, Bambang Sudewo, yang telah berupaya mengangkat salah satu karunia Ilahi berupa tanaman sirih merah sebagai tanaman yang secara empiris selama beratus-ratus tahun digunakan oleh nenek moyang kita sebagai penawar berbagai keadaan yang mungkin saat itu belum diketahui nama penyakitnya.
Saya kira dalam kehidupan sehari-hari kita semua pernah mendengar, melihat, mungkin menggunakan golongan sirih untuk menghentikan perdarahan, menguatkan jaringan, sebagai disinfektan, dan mempercepat penyembuhan luka. Ternyata masih banyak lagi pengalaman saudara-saudara yang lain tentang kegunaan sirih tersebut. Khusus sirih merah, Saudara Bambang Sudewo telah berupaya mengumpulkan dan kemudian menyusun segala informasi, baik tentang budi daya maupun kegunaannya untuk tujuan ikut serta dalam upaya pengembangan dan obat-obatan tradisional.
Kita menyadari bahwa negeri kita ini kaya raya dengan segala flora dan fauna. Saudara-saudara kita pun yang banyak bergelut dengan kekayaan alam tersebut. Untuk menuju arena akademik yang penuh dengan para peneliti dan para ahli, bagi mereka merupakan hal yang cukup sulit. Bagaimana dengan para ilmuwan kita? Uluran tangan untuk bergandengan bersama menguak kekayaan ini perlu dimulai dari para peneliti agar peluang emas dari Allah SWT yang dilimpahkan kepada bangsa Indonesia ini tidak begitu saja digaet oleh bangsa lain, seperti kekayaan-kekayaan lainnya sejak dulu hingga saat ini.
Sekali lagi salut kepada saudara Bambang Sudewo. Berjalanlah terus dengan ide yang telah dimulai, dari rebusan ke ekstrak, kemudian perlu analisis kandungan sirih merah bersama dengan Pusat Studi Obat Tradisional UGM, yang akhirnya bisa mencapai uji klinis.
Kalimat penggempur aneka penyakit perlu disulam dengan kata-kata yang lebih eksklusif ilmiah disertai dengan aturan atau dosis yang tepat dan peringatan bahwa setiap obat pasti ada efek samping yang bisa terduga atau tidak terduga. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan melindungi Anda. Amien.

R. Broto Sudibyo, BSc, 87 tahun, Pakar Herbal

KANDUNGAN SIRIH MERAH HAMPIR SAMA DENGAN SIRIH HITAM DAN SIRIH BETOK

Kehadiran buku yang ditulis oleh ananda Bambang Sudewo dalam khasanah pengobatan tradisional (herbal) kita sambut positif, yang penting obat tradisional dari bahan baku berbagai jenis tanaman herbal harus aman dan bermanfaat. Jika setelah minum ramuan herbal ada keluhan negative yang merugikan, harus ada anjuran untuk dihentikan. Bisa jadi sirih merah berkhasiat menanggulangi beberapa penyakit, baik secara tunggal maupun diformulasikan dengan tanaman obat lainnya yang memang pas untuk dipadukan.
Tanaman sirih merah mempunyai nama latin Piper betle Linn. Sinonim Chavica anuriculatal Chavica betle Mig memilik kandungan senyawa saponin, flavanoid, polifenal, kavicol, kavibetol, dan ponlen. Kandungan sirih merah hampir sama dengan sirih hitam serta sirih betook I dan II. Sirih merah memang rasanya sangat pahit dibandingkan dengan sirih biasa atau varietas lainnya.
Untuk dapat menemukan seberapa kuat khasiat sirih merah dalam pengobatan herbal kiranya perlu uji klinis yang lebih dalam, sehingga kehadirannya benar-benar bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya sebagai obat herbal yang “mujarab”. Saya berharap ada penulis lain yang berani mengorek rahasia sirih merah untuk kepentingan masyarakat luas. Jika memang diperlukan, Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan harus membantu dan memberikan kemudahan bagi yang berkepentingan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang fenomena sirih merah ini dalam khasiat pengobatan herbal di Indonesia.

Prof. Dr. Amien Rais, Mantan Ketua MPR, Dosen

Warisan nenek moyang yang sangat bermanfaat

Sesungguhnya jika kita mau menggali khasanah ilmu pengobatan tradisional warisan nenek-moyang kita, niscaya akan kita temukan banyak “warisan” yang sangat bermanfaat. Ramuan sirih merah yang diperkenalkan kembali oleh Sdr. Bambang Sudewo adalah salah satunya. Semoga pada masa datang semakin banyak pakar ramuan tradisional yang dapat meramu tanaman-tanaman obat yang sesungguhnya sudah lama menjadi kekayaan bangsa kita.

Sri Haryanto. S. Nugroho, BA, Yogyakarta

MARI KITA DUKUNG KEHADIRAN HERBAL SIRIH MERAH

Sri Haryanto adalah guru besar Senam Pernapasan dan Meditasi Anugrah Agung, sekaligus pimpinan Klinik Holistis Alternatif Anugrah Agung, Yogyakarta. Dia juga Redaktur Meditasi Kesehatan Tabloid Senior, pengasuh acara Pengobatan Tradisional Meditasi Kesehatan di Yogya TV, RB TV, dan Radio Suara Kenanga, Yogyakarta. Selain itu, dia adalah Ketua Paguyuban BATTRA Sentra P3T, Provinsi DI Yogyakarta. Berikut tanggapan, pesan, dan kesannya atas hasil karya penulis.
Herbal atau obat tradisional yang juga popular dengan sebutan jamu telah menjadi kebutuhan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Ini terbukti dari pengakuan WHO (World Health Organization) terhadap daya guna dan hasil guna pengobatan tradisional dengan herbal.walaupun teknik atau cara membuatnya berbeda-beda, sejak awal peradaban manusia herbal sudah digunakan dan tujuannya jelas untuk pengobatan dan perawatan kesehatan.
Upaya pengobatan tradisional dengan menggunakan herbal cukup potensial dalam masyarakat. Karena itu, sudah sewajarnya jika terus dikembangkan, ditingkatkan, dibina, dan diarahkan agar herbal menjadi obat tradisional ini sudah sesuai dengan GBHN 1993 dan GBHN 1998, serta Undang-undang Kesehatan No. 23/1992 pasal 47 dan SKN (Sistem Kesehatan Nasional).
Salah satu jenis herbal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat adalh sirih merah (Piper betle L. var. Rubrum). Sirih merah mulai dilihat dan diminati masyarakat luas setelah mengetahui khasiatnya, terutama untuk mengobati berbagi penyakit, seperti jantung koroner, diabetes mellitus (kencing manis), kanker, lever, radang pada mata, dan keputihan. Tanaman ini memiliki kandungan kimia seperti flavonoid, alkaloid, senyawa planoloid, tannin, dan minyak asiri.
Pengamatan, kajian, dan pengalaman Sdr. Bambang Sudewo di Klinik Herbal Center (KHC) yang didirikannya, menemukan bentuk formulasi sirih merah yang sangat berkhasiat dan manjur untuk pengobatan berbagai penyakit. Dia ingin sirih merah ini menjadi bagian khasanah obat tradisional Indaonesia yang perlu dibudidayakan dan dimanfaatkan dengan benar.
Melalui buku ini, dia menguraikan secara gamblang khasiat dan manfaat sirih merah ini, sehingga masyarakat bisa mengetahui betapa besar manfaat dan isi kandungannya bagi tujuan pengobatan dan perawatan kesehatan secara menyeluruh dan berdaya guna. Meskipun demikian, kita semua perlu menyadari bahwa pengetahuan dan pemanfaatan tanaman berkhasiat obat seperti sirih merah ini harus terus ditindaklanjuti, ditingkatkan, dan dikembangkan agar menjadi primadona dalam khasanah pengobatan tradisional, sehingga menjadi tanaman berkhasiat, berdaya guna, bernilai ekonomi tinggi, dan dapat dilestarikan sebagai kekayaan hayati.
Bagaimana pun kita layak mengacungkan jempol kepada Sdr. Bambang Sudewo yang dalam kehidupannya terjun seutuhnya dalam bidang pengobatan tradisional, terutama dalam bidang herbal melalui Klinik Herbal Center (KHC) yang didirikannya dan menulis buku-buku tanaman berkhasiat obat, seperti sirih merah ini. Hal tersebut merupakan smbangan yang sangat besar agar masyarakat menyadari dan mengetahui bahwa dalam bidang kesehatan Allah telah memberikan karunia-Nya dangan apa saja yang telah diciptakan-Nya. Jika manusia mau mempelajarinya, ternyata berbagai ragam tanaman mempunyai manfaat yang sangat tinggi bagi kesehatan keita semua.
Seharusnya kita semua menyadari dan mau menjaga, membudidayakan, memelihara, serta melestarikannya, sehingga semua tanaman berkhasiat obat dapat dikenal dan diketahui manfaatnya, karena seperti kata pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Karena itu, Sdr. Bambang Sudewo dan teman-teman pakar, praktisi, atau penulis-penulis lainnya, terutama dalam bidang pengobatan tradisional, perlu kita dukung dan kita hormati karena pengabdiannya sangat dibutuhkan masyarakat luas.

Romo Dr. Paulus Tribrata Br, M. TH, MM, Rohaniawan

HATI YANG GEMBIRA MENYEMPURNAKAN KEMANJURAN SIRIH MERAH

Back to nature merupakan istilah yang lahir atas kesadaran akan berbahayanya bahan-bahan kimiawi yang terkandung dalam obat-obatan sintetis. Karenanya , penggunaan obat alami cenderung terus meningkat di seluruh dunia, baik di Negara berkembang maupun di Negara maju. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh adanya perubahan lingkunagan hidup, perubahan perilaku manusia, dan perkembangan pola penyakit.
Walaupun telah diupayakan peningkatan anggaran kesehatan di semua Negara, masih saja ada masalah kesehatan yang tidak dapat diatasi secara efektif dan memuaskan dengan cara-cara pengobatan konvensional dan obat-obatan modern, terutama penyakit-penyakit kronis, penyakit degeneratif, penyakit menular tertentu, dan kanker. Namun, sering kali penyakit-penyakit tersebut dengan mudah disembuhkan oleh tanaman berkhasiat obat yang sangat banyak tedapat di Negara tercinta Indonesia.
Penulis buku seperti ini sangat perlu untuk menambah dan memperkaya wawasan para pencari dan pengguna tanaman obat sebagai sarana penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan. Pendapat saya untuk para pengguna tanaman obat, terutam sirih merah sebagai obat adalah, “Gunakan sirih merah dan tanaman obat lain yang sangat banyak terdapat di Indonesia yang merupakan anugerah Tuhan dengan iman, karena barang siapa percaya, maka separuhnya sudah sembuh. Hati yang gembira menyempurnakan kemanjuran sirih merah dan tanaman obat lainnya”. Tuhan memberkati.

Copyright © pesonasirihmerah.blogspot.com December 2008.
All Rights Reserved
BANYUWANGI – JAWA TIMUR – INDONESIA